
SURABAYA – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Jawa Timur kembali menunjukkan komitmennya dalam memajukan kompetensi profesional para akuntan dengan menyelenggarakan Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) pada Selasa, 22 September 2026. Bertajuk "Implementasi SAK Entitas Privat Atas Pendapatan, Beban, dan Persediaan: Studi Kasus & Praktik Pencatatan", kegiatan ini berlangsung secara intensif mulai pukul 08.30 hingga 16.30 WIB.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan pembukaan oleh Prof. Dr. Dian Anita Nuswantara, S.E., M.Si., Ak., CA., selaku Pengurus Bidang Pengembangan, Pengabdian Masyarakat, & Hubungan Masyarakat IAI Jawa Timur sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu Akuntansi Forensik Sektor Publik Universitas Negeri Surabaya.
Sesi inti menghadirkan Desiree Muntu, SE, Ak, MM, CA, Pengurus Bidang Kajian Standar Akuntansi IAI Wilayah Jawa Timur dan Managing Partner PT Prajnawisesa Konsultan Malang, sebagai narasumber utama. Pelatihan ini didesain secara komprehensif, memadukan kerangka konsep teoretis dengan simulasi studi kasus yang aplikatif.
Transisi Menuju SAK Entitas Privat
Dalam pemaparannya, Desiree Muntu menggarisbawahi bahwa SAK Entitas Privat (SAK EP) yang berlaku efektif per 1 Januari 2025 hadir untuk menggantikan SAK Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). SAK EP, yang merupakan adopsi dari IFRS for SMEs, disusun untuk menjembatani kebutuhan entitas yang menilai SAK ETAP terlalu sederhana namun SAK Umum (full IFRS) terlalu kompleks.
SAK EP diperuntukkan bagi entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik namun menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna eksternal.
Standar ini dirancang jauh lebih ringkas dibandingkan SAK Umum, menghilangkan topik yang tidak relevan bagi entitas privat, serta menyederhanakan opsi pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan.
Penerapan SAK EP diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelaporan keuangan entitas, memperkuat komparabilitas, dan pada akhirnya mempermudah akses pendanaan.
Pendekatan Praktis: Dari Pengakuan hingga Penyesuaian
Materi PPL disusun secara terstruktur untuk mengawal peserta memahami alur pencatatan secara utuh. Fokus utama diskusi mencakup tiga pilar elemen laporan keuangan:
Pengakuan Pendapatan: Peserta mendalami prinsip pengakuan pendapatan yang diukur berdasarkan nilai wajar imbalan yang diterima. Materi mencakup identifikasi transaksi, penentuan waktu pengakuan, hingga penanganan piutang dan pendapatan diterima di muka.
Pengakuan Beban: Sesi ini membedah klasifikasi biaya, penanganan beban akrual (accrued expenses), beban dibayar di muka, hingga penyusutan dan amortisasi, serta koreksi penyesuaian yang diperlukan.
Akuntansi Persediaan: Pembahasan mendalam mengenai pengukuran persediaan, di mana persediaan harus diukur pada mana yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi neto (harga jual estimasian dikurangi biaya penyelesaian dan penjualan). Peserta juga diajak untuk memahami rumus biaya seperti MPKP (FIFO) dan rata-rata tertimbang, serta prosedur stock opname.
Sebagai penutup, seluruh teori tersebut diuji melalui Integrated Case Study. Para peserta diajak melakukan analisis transaksi komprehensif berdasarkan SAK EP, menyusun jurnal transaksi dan jurnal penyesuaian, hingga menyusun neraca saldo (trial balance) untuk melihat dampak langsung setiap transaksi terhadap Laba Rugi dan Posisi Keuangan.
Melalui kegiatan PPL ini, IAI Jawa Timur berharap para praktisi dan profesional keuangan dapat mengimplementasikan SAK Entitas Privat secara presisi di instansi masing-masing, guna menghasilkan laporan keuangan yang andal, relevan, dan mencerminkan substansi ekonomi yang sesungguhnya.
