
SURABAYA – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Jawa Timur bersinergi dengan Forum Komunikasi Satuan Pengawasan Intern (FKSPI) Jawa Timur sukses menyelenggarakan Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) bertajuk “Coffee Morning Knowledge Session – From Control to Culture: Membangun Budaya Pengendalian Internal di Setiap Unit Perusahaan: Memperkuat Control Ownership, Risk Awareness, dan Akuntabilitas Organisasi”. Acara ini diselenggarakan pada Rabu, 9 September 2026, bertempat di Ruang Toba, Gedung Customer Service Lantai 2, PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS).
Kegiatan ini disambut antusias oleh 80 peserta yang terdiri dari anggota IAI dan praktisi Satuan Pengawas Intern (SPI) dari berbagai perusahaan. Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Direktur Utama PT Terminal Petikemas Surabaya, Ali Sodikin; Wakil Ketua IAI Wilayah Jawa Timur, Prof. Dr. Ardianto, S.E., Ak., M.Si., CMA., CA.; serta Ketua FKSPI Jawa Timur, I Putu Sukadana, SE., MM. Seluruh rangkaian sesi diskusi dipandu secara interaktif oleh Nugroho, SE., Auditor Penunjang Operasi PT TPS sekaligus Sekretaris 1 FKSPI Jawa Timur, selaku moderator.
Sesi utama menghadirkan dua narasumber ahli di bidang pengawasan dan audit, yaitu Puguh, SE., MM., Ak., CA. (Pengurus Bidang Akuntan Sektor Bisnis IAI Wilayah Jawa Timur & Koordinator Pengawasan Perwakilan BPKP Provinsi Jawa Timur) dan Adjie Rusbandono, Amd., SE., CRMP. (Kepala Satuan Pengawasan Intern PT Terminal Petikemas Surabaya).
Evolusi Paradigma: Dari Compliance Menuju Control Culture
Dalam paparannya, Puguh menyoroti pentingnya transformasi peran auditor dan sistem pengendalian di era bisnis modern.
Pengendalian internal tidak lagi ditempatkan secara eksklusif sebagai proses pengawasan yang terpisah, melainkan harus melekat kuat dan terintegrasi pada setiap tahapan pekerjaan operasional sehari-hari.
Peran auditor internal telah berevolusi secara signifikan dari sekadar pencari kesalahan (watchdog) menjadi trusted business partner yang memberikan asurans, wawasan, serta nilai tambah bagi organisasi.
Penerapan kerangka Three Lines Model secara efektif sangat krusial untuk memperjelas pembagian tanggung jawab antara unit manajemen operasional, fungsi kepatuhan/manajemen risiko, dan fungsi audit internal.
Pembangunan budaya sadar risiko (risk awareness) menuntut seluruh anggota organisasi untuk secara proaktif mengenali potensi penyimpangan dan menjadikan nilai integritas sebagai fondasi pengambilan keputusan.
Transformasi Strategis SPI sebagai Mitra Manajemen
Sejalan dengan kerangka konseptual tersebut, Adjie Rusbandono membagikan wawasan praktis mengenai implementasi Rencana Strategis (Strategic Plan) SPI di lingkungan PT Terminal Petikemas Surabaya.
Pendekatan SPI kini bergeser secara nyata menjadi mitra strategis bagi manajemen yang berfokus pada penyediaan assurance, layanan konsultasi, dan dukungan penuh terhadap pencapaian tujuan perusahaan.
Pelaksanaan tugas SPI didorong oleh tiga pilar strategis utama untuk tahun 2026, yang meliputi pelaksanaan Risk Based Audit tematik, program Monitoring dan validasi ad hoc, serta program kerja pendukung tata kelola.
Pilar Risk Based Audit difokuskan untuk menggali area strategis perusahaan, seperti sektor energi, pekerjaan investasi, beban usaha, dan efektivitas penerapan manajemen risiko.
Sebagai pilar Monitoring dan pendukung, SPI secara rutin memantau tindak lanjut hasil audit, memvalidasi efektivitas Internal Control over Financial Reporting (ICOFR), serta mengevaluasi penerapan Risk Maturity Index (RMI) dan Good Corporate Governance (GCG).
Melalui kegiatan PPL interaktif ini, para peserta diharapkan tidak hanya membawa pulang teori, tetapi juga mampu menggeser pendekatan konvensional di tempat kerja masing-masing menuju penerapan budaya pengendalian yang matang. Penguatan accountability, risk awareness, dan control ownership di setiap unit akan memastikan bahwa pengendalian internal berkontribusi nyata dalam menciptakan organisasi yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.
